“ Apaaaaaaa?????” ….Kata wanita dengan dandanan menor sambil melotot. Musik pengiringnya tak kalah heboh (baca:norak) “ deng dong deng dong deng”…camera zoom in trus zoom out..lalu beralih ke aktor yang lain berganti-gantian, pun dengan ekspresi yang membingungkan, itu marah, kaget, sedih, atau apa? tampak dibuat-buat. Begitulah wajah sinetron kita. Kita???. Sinetron yang sering nongol dengan nama produser Punjabi. Dan mungkin ada yang lain, karena yang saya tahu ya Punjabi Punjabi itu. Belum lagi adegan tampar menampar yang keliatan kurang sungguhan…tangannya terlalu jauh dari muka. Air matanya palsu, adegan nangis tapi matanya ngga merah, hidungnya juga. Ceritanya ga jauh-jauh dari cinta segitiga, rebutan harta, keluarga tajir yang ga merestui anaknya pacaran ma orang miskin, figure-figure anak muda yang sepertinya sejak lahir udah kaya raya, udah jadi direktur, ganteng, mapan, ada orang-orang lemah yang dianiaya. Lalu ada tokoh yang luar biasa sabar, ada yang luar biasa jahat. Tetangga saya dulu bilang “ Opo ono yo wong koyok ngono”. Lucunya mereka ya tetep nonton…:D.
Tak bisa dipungkiri sih, memang sangat komersil, karena sebagian besar masyarakat kita suka tontonan itu. Makanya rating acara RCTI dan SCTV selalu tinggi, ya karena ada sinetron. Dari sisi bisnis, pastinya sangat menguntungkan, banyak mendatangkan iklan. Namun sayang, minim muatan-muatan pesan moral yang terkandung di dalamnya, yang semestinya mendidik masyarakat agar lebih tegar, berpikir positif, realistis dan selalu berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Kuatirnya, Virus Punjabi ini akan mambawa dampak buruk bagi masyarakat yang sedang putus asa dengan beban hidup yang semakin berat. Bisa saja sih inti cerita nya seperti itu, tapi bisa ngga ya dikemas lagi dengan ide-ide baru yang inspiratif dan kreatif sehingga bisa jadi inspirasi orang yang menonton. Itung-itung sebagai CSR lahhhhhh bagi para bos sinetron itu, jadi pahala kan…jangan maunya untung terus.