Jam 11 malam, ngga seperti biasanya, tadi malam aku pingin tidur cepet. Bukan karena ngantuk, tapi pingin tidur saja. Otakku lelah. Aku pejamkan mata, tapi tak kunjung terlelap. Yang ada malah memori-memori yang berputar –putar seperti film saat menyaksikan prosesi pemandian alhamrhum bapak, 14 tahun yang lalu. Rasanya seperti terjadi kemarin. Aku mengguyurkan air pelan-pelan ke wajahnya. Aku ngga tau, kekuatan mana yang telah membimbingku hingga masih kuat berdiri. Adikku satu-satunya, mengucilkan diri di kamar. Aku ngga tau, apakah dia menangis. Karena tiap kali keluar kamar, dia masih bisa tersenyum tegar. Sementara Ibu, dan ketiga kakakku masih di Kalimantan. Ibu belum tiba. Kepalaku pusing luar biasa menyaksikan ini semua. MAsih segar juga di ingatanku, jenazah bapak sudah siap di sholatkan. Pelayat masih berdatangan, sebagian ada di ruangan dimana jenazah berada. Aku masih disisinya. Dengan lantang nenek tiriku, meneriakkan namaku di depan mereka, bahwa aku anak yang “tidak pinter” (=tidak baik pada orang tua), karena tidak di sisi Bapak saat-saat terakhir bernafas, tidak menjaganya.Aku lihat, nenek tiriku masih sibuk menjelek-jelekkan aku di depan mereka, seperti sedang berpidato dan meluap-luap. Aku membencinya, dialah yang membuat bapakku begini, mencekokinya dengan kopi, rokok, dan segala apapun yang dilarang dokter. Kata-kata pedas itu lambat laun menghilang dari pendengaranku, perhatianku hanya tertuju pada tubuh yang terbujur kaku di ruangan itu. Aku mencintainya sangat dalam. Aku merasa sendiri. Jelas sekali aku melihat wajahnya untuk terakhir kali. Lirih aku ucapkan permintaan maaf di telinganya.
Aku buka mata, jam dinding sudah menunjukkan jam 1 pagi. Mata masih susah diajak kompromi. Aku coba pejamkan mata lagi, aku mencoba berkhayal bahwa suatu saat nanti ketemu Bapak, di mall, di coffee bean, starbuck, Fish&Co, bahwa ternyata Bapak belum meninggal….