Aku tidak menyangka secepat ini meninggalkan perusahaan yang belum lama aku bergabung didalamnya. Produknya sangat menarik dan berprospek kuat untuk berhasil di pasar. Cita-citaku adalah ingin membuat brand yang belum dikenal orang menjadi terkenal. Saat interview, atasan bercerita dengan meyakinkan bahwa fondasi perusahaan sudah sangat kuat, tinggal lepas landas. Karena ini jugalah yang meyakinkanku untuk segera bergabung. Dengan semangat membara dan banyak rencana tersusun di kepala, aku memulai dengan mempelajari performa produk, harga, sales, SDM, distribusi, check lapangan, dan diskusi dengan rekan kerja di posisi-posisi tertentu, mulai Sales Dept, Promotion, Gudang, dan lain-lain.Di minggu pertama, aku banyak menemukan instrument-instrument vital yang justru ngga ada. Dan jalur koordinasi yang semrawut. Disini seperti UKM. Namun, ini bukan halangan. Ini bisa diselesaikan. Dalam waktu 2 minggu,aku mengajukan strategi pemasaran kepada atasan yang sesuai dengan target dan kemampuan perusahaan. Sehari setelah presentasi, aku coba tanyakan tindak lanjutnya, 2 hari, 3 hari, seminggu, 2 minggu, sebulan…, ” bagaimana dengan plan saya Pak, adakah saran dan masukan? Apakah ada yang di hold dan yang bisa dieksekusi? Mengingat waktu terus berjalan. Ingin rasanya mengirim email pertanyaan ini lalu cc ke Direktur, sesuai saran HRM. Tapi, ah tidak. Aku tidak mau dimusuhi olehnya. Hingga akhirnya aku berkata;” adakah yang bisa saya bantu Pak?”.