Q&Qback Merit vs Single

Posted on

 

happy-single-person

“Before you say something, think how you’d feel if it’s said to you”

Bagi yang sudah merit kemudian sering dan ingin bertanya kepada single kapan kawin dan sebangsanya, siap-siap jika ada pertanyaan balik ke anda. Dan ngga boleh tersinggung, harus fair. Mau bertanya, harus mau ditanya balik. Berikut pertanyaan-pertanyaan yang sering ditujukan ke single dan pertanyaan baliknya.

( M : Merit, S : Single)

 

#1

M:” Kamu kenapa belum nikah nikah?”

S: “ kamu kenapa belum cerai cerai ?”

M:” loh kok kamu doakan jelek?”

S: ” kamu kan nanya kenapa belum nikah nikah? Masa saya ngga boleh tanya kenapa kamu belum cerai cerai? Sapa tau dari ceritamu bisa jadi tips sukses kalo aku udah menikah nanti agar bisa awet seperti kamu. Udah berapa tahun?”

 

#2

M: “ kamu sabar yah, nanti juga akan datang jodohmu”

S:” Kamu juga yang sabar ya. Kerja sampe malam, capek, pulang urus anak. Belanja, ngurus suami, ngga sempet ngopi-ngopi, nyalon. Nanti juga akan datang  kebebasanmu”. ( Kalo si penanya perempuan)

M: “ lah kenapa mesti ngga sabar? Kan ini sudah pilihan, walau kebebasan sudah berkurang, tapi membahagiakan punya keluarga sendiri ”

S: ”Kalo gitu sama dong sama saya, kan saat ini pilihan saya dan membahagiakan masih punya banyak kebebasan. Jodoh silahkan datang kapan saja, tapi bukan sekarang. Tar aku kabari ya M.”

Pernyataan seperti ini ke single sama saja seperti bilang ke seseorang yang ngga anda kenal “ kamu sabar yah, makanan segera datang”. Padahal saat itu dia lg ga laper dan ga pesen makanan. So, think before say something. Is it true with what you’re thinking, or just guessing?

 

#3

M: “ Yang kamu cari yang seperti apa lagi sih? Kamu cantik, mapan, karir bagus, jangan terlalu pilih-pilih”.

( Single bisa menjawab 2 alternatif, yang kemungkinan jawabannya bisa bikin penanya (M)  cemburu ato sakit hati, jadi harus siap ya..)

M: “ Yang kamu cari yang seperti apa lagi sih? Kamu cantik, mapan, karir bagus, jangan terlalu pilih-pilih.”

S: ”yang kayak suamimu”

What? M kaget.. dan tiba-tiba hati panas karena merasa punya kompetitor yang siap-siap mencuri suaminya. Padahal S Cuma jawab seenak udelnya.

Atau

M: “ Yang kamu cari yang seperti apa lagi sih? Kamu cantik, mapan, karir bagus, jangan terlalu pilih-pilih”.

S: ” Yang pasti, yang ngga kayak suamimu”

Ups, nanana marah dehhhh si M. Dan dengan muka bete “ eh, jelek-jelek gitu baik tauuu”

Yaahh, suaminya sendiri dibilang jelek.. kqkqkkq. Padahal S Cuma iseng seenak udel kucingnya.

 

#4

M: “emang kamu ga bosan sendirian terus?”

S:” kamu ga bosan ma istrimu berdua terus?”

M:” ya ngga mungkinlah, masa sama istri bosen”

S:” Nah, aku siapa yang aku bosenin. Masa bosen dengan diri sendiri. Gila dong namanya !”

 

#5

M:” Kalo kamu cari yang sempurna, mau sampai kapan? ”

S:” Emang yang sempurna itu seperti apa sih?”

Nah,anda harus jawab pertanyaan ini… hayo tanggung jawab. Sempurna menurut anda itu yang bagaimana? Cocok ngga dengan yang ada di pikiran si Single. Kalo ga sama, maka anda sok tahu… J

 

#6

M:” Mau sampe kapan single?

S:” Mau sampe kapan kamu nanya?”

Eitsss, ga boleh tersinggung.. Kan katanya nanya-nanya gitu karena perhatian kepada teman. Minta bukti “perhatian” dalam bentuk nyata.

S:”OK, kalo aku nikah, kamu sponsorin catering ya, 100 juta aja deh. Kamu kan sudah perhatian banget selama ini”

Hayoo.. walk the talk !

 

#7

M:” segera nikah, orang yang tidak menikah bukan termasuk golongan kaumnya Nabi Muhammad”

( kalo yang ini, jawabannya harus serius)

S”: Wah sedih deh, kalo bukan kaumnya Nabi terakhir Nabi Muhammad, kaumnya sapa dong. Padahal udah berusaha melaksanakan tuntunan Quran dan Hadist. Kamu sudah melaksanakan semua ajaran Quran dan Hadist belum dalam berumah tangga? Udah khatam hadist apa saja?”

M:”……….”

Sepi…

 

Ternyata ya, kebanyakan orang yang tanya-tanya itu biasanya malah bukan sahabat atau teman dekat. Kenapa? Karena sahabat tahu pasti apa yang dihadapi sahabatnya. Mengenai “kapan”, itu rahasia Alloh sama halnya dengan mati. Nah, yang paling berhak bertanya seharusnya adalah Orang tua. Kenapa?sudah jelas dong, mereka yang mengurus kita sejak lahir sampai ‘geda’.. Jadi wajar, jika mereka ingin “hasil karya”nya sukses. Dan menikah termasuk parameter mereka dalam kategori sukses.

Nanti, bersiaplah dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya dari si M, setelah menikah, kapan punya momongan? Setelah satu, akan nanya lagi kapan dikasih adek?” . Bahkan ada yang sadis, kepada orang yang baru saja divorce, atau ditinggal untuk selamanya oleh pasangannya.” Kapan nikah lagi”. Kalo masih ada yang sering nanya-nanya… ya anggep saja mereka perhatian ( lagi) dan sayang… Mungkin orang-orang di lingkungan keluarganya sudah luber-luber curahan perhatian yang didapat darinya, sehingga diberikan kepada orang lain.

Kalo semua orang bisa memaknai kata “ happy” dengan sebenar-benarnya dan mau sedikit keluar dari sudut pandangnya sendiri, pasti dia akan mengerti. Happy single. Masih ngga ngerti? Makan Mi*** dulu sana… 😀

 

Hi Princess,masihkan perlu make up untuk ke pantai? Sun-screen apa kabar?

Posted on

sun

Aktivitas outdoor yang bersentuhan dengan sinar matahari seperti di pantai, pasti akan sangat dihindari untuk orang-orang yang tergolong “princess”. Tentu saja, karena takut hitam, males keringetan, make up kacau beliau dan lain sebagainya.
Anda termasuk diantaranya? 😀
Semua tahu, sebenarnya yang paling dibutuhkan adalah sesuatu yang photo-protector. Sesuatu yang mampu melindungi kulit dari sinar matahari, baik sinar UV A yang dapat menyebabkan penuaan dan kanker kulit, maupun sinar UVB yang dapat membuat kulit terbakar. Bukan hanya paparan langsung terhadap kulit yang perlu diwaspadai, pantulan sinar matahari dari pasir,air dan kaca juga kuat loh. Nah, masih tetep berlindung di bawah pohon terus-terusan? :D.
Yup, yang paling penting dan wajib dibawa kemana -mana adalah sun-screen. Percaya deh, untuk kondisi seperti ini, eye shadow, blush on, dan make up warna-warni lainnya jadi kurang penting. Anda pasti sudah pernah dengar, zat -zat warna  yang terkandung di dalam make up tersebut dapat menyebabkan reaksi fotosensitive terhadap kulit jika terpapar matahari terus menerus. Kalau bedak bagaimana? Bedak dengan SPF tertentu, mungkin menolong karena biasanya mengandung Titanium Dioxide yang bersifat reflector. Jadi, persiapkan diri dengan mengoleskan sun-screen ke seluruh wajah dan badan. Setelah itu silahkan bedakan.

woman and sun
Terkadang orang malas menggunakan sun-screen karena lengket, nah cari sun-screen yang formulanya ringan di kulit, bebas pewangi, serta mengandung perlindungan total terhadap UV A dan UV B, ditandai dengan SPF dan PA++, Non – PABA ( Para-amino benzoic acid). Dan yang tidak kalah penting, sun-screen tersebut tidak hanya memberikan perlindungan secara fisika seperti Titanium Dioxide, namun juga secara kimia seperti Tinosorb, Mexoryl SX,XL yang sangat stabil ini. Zat ini mampu melindungi kulit secara optimal. Radikal bebas pada sinar UV, dapat “dijinakkan” dengan kehadiran zat aktif ini. Jadi tidak perlu kuatir kulit “gosong” dan dampak lain paparan sinar matahari.

Nah, sekarang waktunya lepas bebas….menikmati semua yang ada, laut, pantai, ombak, sinar matahari….
Be wild… be happy !! 🙂

Surfing??? Oh No.. Oh Yes !! ( Batukaras, day – 1)

Posted on Updated on

IMG-20131028-00215

” Itinerary-nya gimana?”  Whatsapp saya ke Gemala Hanafiah yang biasa dipanggil Al, tiga hari sebelum keberangkatan. Si Surfer-Girl handal ini dengan entengnya menjawab singkat, ” Itinerary…. Jalan2 !!!”.  Wah, haha dan saya pasrah ” ya udah, aku pasrahkan diri deh terserah mau dibawa kemana”.
Rencana trip ini sudah direncanakan bulan lalu, saya ingin ambil cuti seusai Symposium Yogja. Saya utarakan rencana saya itu ke Al, dan saya merasa sangat beruntung, teman saya ini punya waktu libur yang pas dengan rencana cuti saya. Tapi saya masih belum tahu akan kemana. Dan Al yang memilih tempatnya ” Batukaras”. Dimana itu?.  Dia hanya bilang ” Nusa Wiru”.
Dimana lagi tuh…. Ahhh..dia selalu begitu, ngga mau jelasin lebih detail. Yasud,  saya tanya Om Google…hehe.

CAM01503Hari yang ditunggu tiba. Hanya dengan waktu tempuh kurang lebih 50 menit dengan Susi Air dari bandara Halim Perdana Kusuma, sampailah kita di Bandara kecil, bernama Nusa Wiru. Mobil Mini Van milik Susi Air sudah siap mengantar ke Batukaras, menyusuri jalan perkampungan yang sepi dan jalan yang baru mau diaspal. Sepanjang perjalanan, saya rajin bertanya ke Al, abis ini kemana, ini kampung apa,  trus hari ini ngapain aja. (Hahaha… dia jengah kali ya). Al menjawab ” kita ke pantai-lah, kok kamu pake jeans, kan basah-basahan?”. Lalu dengan semangat 45, saya menjawab ” lah, yang maen basah-basahan kan elu, gue cuma maen di pinggir-pinggir, mlipir. Sandal cantik gue gimana kalo basah-basahan. Mesti cari sandal jepit dong. Ada pasar ga disini?”.
Pose at Susi AirAl masih nasehat ” mana ada orang ke pantai pake begituan?”. Saya masih ngeyel, ” hadehh, udehhh lu surfing aja, gue cheerleader. Lagian di pantai kan bisa nyeker”
“Celananya? Ya udah, pake celana gue aja”, kata Al kasih solusi, meminjamkan celana pantai panjang yang sedang dia kenakan saat itu.
“Masih bawa laptop pula, lu ga komit nih ma liburannyaaa”, protes Al. Saya cuma bisa nyengir dan bilang ” ada yang mesti di follow up, and just in case ada yang urgent..hehehe”.
Setelah perdebatan panjang ( lebai.. hehe ), kita sampai di penginapan minimalis dan unik bernama Hunting Hi & Lo, yang sudah Al pesan sebelumnya. Penginapannya tampak seperti showroom interior kamar, karena serba kaca. Setelah meninggalkan barang-barang di kamar sebentar,  kami pun bergegas untuk makan siang di restoran dekat pantai.
Usai makan siang, pandangan Al ngga lepas dari laut, mengamati ombak. Silih berganti teman-teman Al menghampiri dan menyapa hangat Al seperti saudara. Dulu waktu kuliah, Al sering ke sini untuk latihan surfing. Saking akrabnya dan sangat mengenal daerah ini, udah kayak penduduk lokal.
” Nanti lu belajar surfing ya”, kata Al. “Ogah, kan gue ga bisa berenang, takut”, jawab saya, ” Gue cheerleader aja, Gimme A, Gimme L.. Allllllll..hahaha” .
“itu cethekkkk, liat tuh orang di sana, cuma sedada. Apalagi lu tinggi”, kata Al lagi.
Saya masih ga bergeming dan hanya ‘ngintil’ di belakangnya yang sudah sibuk angkat papan menuju laut,  “Gimme A..Gimme Al..Alllll” teriakan saya ala cheerleader.

IMG-20131028-00224

Bosan duduk jadi penonton yang baik, saya beranjak mendekati bibir pantai dan mendaki bukit kecil yang ujungnya menjorok ke laut, agar bisa melihat lebih dekat Al dan orang-orang yang sedang asyik bermain surfing di sana.
Dengan ombak yang tidak terlalu besar, gaya santai Al berdiri di atas papan yang meluncur memang keren bangett. Cool ! Keren !  Kagum…
Lalu saya lihat ibu-ibu yang sedang belajar surfing. Wuahhh, gila.
Tiba-tiba saya ingin coba. Tapi ah, engga deh, itu ide gila, pikir saya. ” Impossible!”

 

 

CAM01513

Tapi saya ngga menolak ajakan Al berikutnya. Setelah dia istirahat sebentar, Al mengambilkan long board berwarna hijau. Sebelum menyentuh air, Al menjelaskan cara-cara nya. Cara berbaring di papan, paddle, dan cara bangkit berdiri saat meluncur. Cara memegang,mendorong papan saat masuk air dan melawan arus. . Lebih details? Langsung praktek !! Oh My God… jantung saya berdegup kencang. Lalu Al mengikatkan tali papan yang  saya lupa nanyanya, ke kaki kanan saya.

” Al, jangan jauh-jauh dari gue. Kalo tenggelam tolongin”, pesan saya agak panik.
Sambil tertawa geli, Al menegaskan sekali lagi ” itu cethekkkkk, ga dalem. Coba deh, pokoknya seru, tar nagih !!”.

Mendorong papan bareng ke laut hingga di posisi air setinggi perut, susah payah saya naik ke papan yang dijaga Al. Dan mendorongnya agak kedalam.  Serasa urusan hidup mati, saya serius mendengarkan arahannya. “Nanti pas ombak datang, gue akan dorong. Tapi nanti lu belajar paddle ya” katanya.  “sementara dibantu dorong dulu”

Tak lama kemudian,  “Nah, ini dia nih ombaknya..”, Al memutar papan dan saya menghadap pantai. ” Siap-siap yaaaaaa”, kata Al. Dan tiba-tiba saya merasa terdorong, meluncur. Lalu saya mendengar Al ” berdiriiiii”. Dan saya berdiri dengan kaki kanan dulu, lalu kaki kiri ke depan, sesuai arahan Al sebelumnya. . Dan byurrrrrr…. saya jatuh sebelum sempat berdiri.
Saya kembali ke Al, sambil mendorong papan. ” Lu terlalu cepat berdiri”, katanya.

Sambil menunggu ombak bagus datang. Al menunjukkan mana ombak yang bagus, pecah dimana dan kapan harus mulai paddle. Yang ini, saya masih ngga paham. Saya juga belajar duduk di atas papan. Dan taraaa, saya bisa. Tapi saya jatuh gara-gara ada gelombang yang agak besar menghampiri saya, papan terbalik dan akibatnya jari manis robek sedikit karena saya terlalu memaksakan diri bertahan untuk tidak jatuh. “Jangan ditahan, jatuh aja” nasehat Al.
Okeh, coba lagi. “Ombaknya bagus tuh… siap-siap yaa”.
Percobaan Ke-2, ke -3, ke-4, saya masih belum bisa meluncur dan stabil berdiri. Jatuh berkali-kali. Namun makin sering jatuh, makin terpancing semangat saya untuk mencoba lagi. Tiap abis jatuh, sekuat tenaga saya cepat kembali ke arah Al, untuk menjemput ombak lagi. Dan akhirnya… ” Ini nih, siap-siap yaaaa” kata Al lagi sambil mendorong papan saya. Dan yeahhhhh… saya berhasil, saya berdiri, lama bertahan hingga mendekati pantai.

SubhanaSurflloh…. rasanya itu ngga bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ini pengalaman yang luar biasa, saat didorong ombak, saat bahu dan lengan menyentuh air dan suara gemuruhnya yang begitu dekat di telinga..ahhh, badan serasa di belai, berlomba dengan ombak mencapai pantai, dan…. ombak itu serasa hidup.. Ah, sulit dijelaskan, harus coba sendiri deh.
Bahagia banget, puas, dan saya ngga percaya akhirnya melakukannya. Belajar surfing, yang tadinya tidak pernah terpikirkan sebelumnya, akhirnya terjadi. Thanks to Al, yang berhasil “menyeret” saya ke laut dan ngajarin..hehe.
“Besok kemana?”, tanya saya bersemangat. “Ke Green Canyon”, jawab Al.
“Basah-basahan lagi?” tanya saya.
“Iya dong, berenang”,
“waduhhhhh, gue ga bisa berenang…harus basah-basahan lagi yah? Nah, itulah gunanya itinerary. Kan gue bisa siapin  baik-baik, baju nya, celananya”, sambil tertawa saya mengungkit-ungkit kebiasaan “well planned” itu.
“Pake  kaos Roxy gue aja”,  solusi Al.
Glekk,…Nah ga ada alasan lagi deh buat saya buat ngga masuk air..pasrah ma yang punya Batukaras. hehehehe

Skin care vs decorative (make-up), mana lebih penting?

Posted on Updated on

csm_Fluessigkeiten_73ba8eaa9e

(ket.foto:http://www.noelken.eu)

            Sejauh mana anda membutuhkan kosmetik? Selama manusia hidup, mereka akan terus membutuhkan kosmetik. Dari lahir hingga jadi golongan geriatric. Cowo pun sekarang sudah mulai “bisa” membahas kosmetik loh. :D.  Yuk intip, peng-kategorisasian kosmetik. Dan sebagai pengguna, kira-kira apakah kita termasuk terlalu cuek, pelit atau boros sih untuk urusan kulit. 🙂

Umumnya, kosmetik terbagi menjadi 2 kategori, Skin Care dan Decorative.
Saya akan lebih fokus membahas skin care daripada decorative. Skin Care masuk dalam klas D02 yaitu emollient dan protectives di market dermatology yang tumbuh di atas 10 % tiap tahun nya. Secara umum, skin Care merupakan produk yang berguna untuk merawat kesehatan kulit. Merawat ini bisa saja memperbaiki secara estetis tampilan kulit, membantu pengobatan pada gangguan kulit, atau mempertahankan kesehatan kulit. Produk seperti whitening dan anti-aging termasuk memperbaiki estetis kulit. Karena produk tersebut mampu mencerahkan kulit yang tadinya kusam atau agak gelap. Produk Anti Aging, berguna untuk menghambat tanda-tanda penuaan kulit seperti kerut, fleg, supaya tampak lebih muda dan kencang. Sementara produk yang dibuat untuk tujuan membantu pengobatan pada gangguan kulit, anda banyak menemukan di pasaran seperti anti-acne ( anti jerawat), anti-itchyness (anti gatal) , yang biasa terjadi pada kondisi kulit yang terlalu kering dan hypersensitive or allergic skin, dan lain sebagainya.

Lebih jauh lagi malah ada istilah therapeutic  skin care. Produk ini biasanya menggunakan teknologi tinggi karena dibutuhkan sebagai penunjang pengobatan yang dilakukan dokter kepada pasiennya. Seperti pada kasus Psoriasis, atopic dermatitis, dan rosacea. Dimana pada kasus ini, agar cepat pulih kulit pasien harus dibantu dengan menggunakan pelembab untuk memperbaiki skin barrier sebagai gerbang utama integritas kulit kita. Pelembab ini harus terbukti klinis mampu mengurangi dryness (kekeringan kulit) , icthyness (gatal), dan erythema ( kemerahan).

Skin Care terdiri dari :
1. Cleanser ( pembersih)
Termasuk kategori cleanser adalah sabun, scrub,  susu pembersih dan astringent/toner, masker, pore cleansing strip, cleansing cream. Lain waktu akan kita bahas yah, dan sharing bareng manakah yang paling diperlukan dan tidak di antara jenis – jenis pembersih ini.

2.  Moisturizer ( pelembab)
Pelembab apapun namanya, apakah  A-Moisturizing Cream/ Lotion, B- Day/Night Cream, C-Anti Wrinkle, D-Flawless Cream, X-Whitening Cream, semua itu termasuk pelembab. Sementara ada juga yang mengandung SPF 15, pelembab dengan penambahan UV Protection.

3. Protection ( Perlindungan)
Nah, ini penting banget buat kita yang tinggal di negara yang terpapar sinar matahari dengan intensitas tinggi, biasanya disebut sun-block atau sun-screen atau sun-protection. Sebenarnya di dalam sun-screen/sun-block/sun-protection terkandung ingredient pelembab di dalam nya. Untuk kondisi tertentu misalnya sedang menjalani therapy seperti microdermabrasi, chemical peeling, sangat penting menggunakan sun-block ini.

Jadi secara keseluruhan, kulit sangat memerlukan perawatan dengan produk skin care. Merawat kulit, selain untuk mempertahankan kesehatan kulit, hal ini penting untuk menunjang hasil akhir penggunaan kosmetik decorative yang akan anda gunakan. Kulit sehat terlihat dari tampilan kulit yang sehat, lembab  dan tidak kusam. Nah, kalo kulit anda saja tidak sehat, anda memerlukan extra-effort untuk mengaplikasikan kosmetik decorative ke kulit anda. Contohnya bedak, karena sulit nempel dan tampak kurang merata di wajah anda. Akhirnya anda menggunakan foundation/alas bedak, yang menurut saya sulit untuk memberikan tampilan yang alami. Kecuali anda mau show yah di TV or panggung yang memang diperlukan riasan yang outstanding.

Terakhir tentang decorative. Yup, make-up. Sebagian orang merasa make-up adalah “nyawa”. Lebih baik ketinggalan dompet dan gadget daripada ketinggalan perlengkapan make-up :). Bagi saya, baik skin care dan decorative sama-sama seru. Bagi produsen, mungkin bisa me-repro warna pada bulk terdahulu. Dalam pemilihan produk, selain warna (yang sedang saya butuhkan), texture dan kemudahan dalam pengaplikasiannya ke-kulit, penting sekali untuk memberikan hasil akhir terbaik. Teknis aplikasinya, saya pun masih belajar tuh ke mas-mas make-up artist. Selain itu, produk make-up yang baik seharusnya tidak memberikan reaksi alergi ketika digunakan.
Nah, mana yang lebih penting Skin Care atau Decorative? Mana yang sering anda cuek-in? 🙂

Don’t take any “too” !

Posted on Updated on

IMG_20130907_185927

Sudah merasa bahagia belum dengan karir? Tik tok tik tok…butuh waktu berapa lama untuk mejawabnya? Jujur sih saya butuh berpikir . Kok berpikir? Bukannya kebahagiaan itu masalah ‘hati’ bukan pikiran.  😀

Mengutip hasil sebuah penelitian di Universitas Yale yang tertuang dalam Buku karya Dr. Ibrahim Elfiky berjudul “ Terapi berpikir positif”, ternyata  kurang dari 3 % penduduk dunia yang benar-benar merasa stabil dan bahagia. Wah, saya belum masuk dong yaa…

Saya pun teringat quote “ Happiness  is the state of mind”. Kebahagiaan, kita sendiri lah yang menciptakannya. Bukan karena orang lain, pekerjaan, jabatan dan uang. Punya masalah? Semua orang punya. Bahkan mungkin orang lain mengalami yang lebih berat. Agak sulit untuk men-judge, bahwa masalah  yang mereka hadapi lebih ringan dari kita. Hayo, ngaku.. pernah ngga, anda bilang ‘ ah dia mah enak, karena begini karena begitu’. Percaya deh, berat ringan itu subyektif. Tergantung individu masing-masing yang menghadapinya. Ringan menurut kita, belum tentu ringan buat dia. Ya karena kita punya latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda-beda.

Saya mensyukuri perkembangan karir saya. Namun pekerjaan yang super duper overload karena keterbatasan tim management dan pembagian tugas, mengharuskan saya melakukan berbagai fungsi tugas. Ingin rasanya “melambaikan tangan ke kamera” ( acara dunia lain, jika peserta ga kuat lagi hehe..)  karena sudah tidak sanggup lagi.  Namun, kembali ke tulisan saya di atas, ini mungkin subyektif. Overload buat saya, mungkin tidak untuk anda. Jadi daripada ‘tengsin’ ,  saya ngga akan curhat disini..hehe.

Ketika saya merasa ngga happy, saya selalu berusaha untuk me-manage pekerjaan agar lebih baik lagi  dan senantiasa berdoa pada Alloh untuk menguatkan hati dan pikiran saya. Namun sangat tidak mudah. Saya masih berkutat dengan masalah yang sama. Sehingga pada akhirnya kecepatan berpikir saya dan kesibukan yang luar biasa, berimbas pada fisik saya. Jika badan bisa bicara, mungkin dia akan teriak “ woiii… capek tau, istirahat !!” Badan saya pun tumbang, dan 3 bulan sekali masuk Rumah Sakit. Ada seorang teman bilang, kamu mungkin kena psikosomatis. Saya menolak dibilang terlalu stress. Gimana tidak, saya tetep ceria tiap hari kok, tersenyum tertawa, bercanda. Yup, denial ! Tapi tubuh ngga bisa dibohongi.

Saya beruntung, menjadi type orang yang extrovert, dan dominan Sanguinis. Mudah bergaul dan selalu ceria walaupun hati sendu..jiahh 😀 .  Selalu menasehati diri sendiri untuk berusaha melihat segala sesuatu dari sisi positif daripada negatifnya. Saya ingin happy ! Berat sih, tapi saya tidak ingin masalah ini mengganggu kebahagiaan saya. Teringat seorang inspirator menulis “If you maximize your talents, you are on path on purpose, on target. When you don’t, you’re off path, off purpose, off target” . Kebanyakan dari kita pasti pernah merasa overload, overstress, ingin breakdown. Well, ini normal. Namun, kalo kejadian ini terjadi secara konsisten, berulang – ulang, perasaan itu selalu datang sejak bangun tidur hingga tidur lagi ( itupun kalo anda beruntung bisa tidur), maka ini sudah tidak sehat untuk jiwa dan badan kita. Kita bukan menjadi “manusia” lagi tapi mesin. But, we are not machine, are we?. Learn your limits.
Ketika limit sudah terdeteksi, tinggalkan sesuatu yang bukan porsi kita.

Jika tidak, dampak terburuknya akan membentuk citra diri yang “dingin”, skeptis, bete berlebihan, dan suka ngajak ‘berantem’ orang lain. Oh, tidak. Saya tidak mau begitu.

Nah, lagi – lagi pilihan ada di tangan kita. Kita loh yang menentukan, bukan orang atau sesuatu yang lain. Kita yang paling tau keputusan yang terbaik untuk diri sendiri,  Don’t take it too personal, don’t think about everything too much, Don’t take any “too”. Happiness is not a choice, but it is a must !

Jakarta – Pati, all by my self !

Posted on Updated on

edit

Saya ngga pernah membayangkan sebelumnya kalo akhirnya akan melakukan perjalanan pulang kampung sendirian. Baru sadar kalo tindakan ini tergolong nekat setelah respon teman yang kaget dan ngga percaya  mendengar itu. Bayangkan, Jakarta-  Pati (Jateng)… PP nyetir seorang diri !! Saya pun masih ngga percaya kok saya mau-maunya melakukan itu. Pasalnya, sejak saya berkarir di dunia kecantikan ( tsaahhhhh!!!  hehe) , saya merasa berevolusi menjadi pribadi yang “ga mau susah, ga mau capek” alias flight aja buanyak, ngapain susah- susah lewat darat. Boro-boro  naik bus yang cuma naik lalu tidur, bangun bentar cuma makan malam. Tidur lagi, bangun-bangun sudah sampai ke Pati. Lah ini, nyetir sendirian dengan Vios tercinta saya. Parahnya lagi, saya ngga tau jalan saudara-saudara !! . Di Jakarta saja, saya masih sering nyasar, bagaimana ini? Soalnya nyasar nama tengah saya. . 😀

Sebelum berangkat ke Pati pun, saya masih bingung ketika teman kantor tanya, “ mau lewat mana, utara atau selatan?”. Saya jawab dengan pede nya, “ Utara”. Padahal saya lupa, utara itu rute mana. Tapi bukan berarti saya ngga pernah via darat dari Jakarta ke Pati. Dahulu sekali, pernah naik bus. Tapi seperti yang saya bilang tadi, tidur! Pernah bareng teman-teman lelaki alumni SMA saya. Itu pun saya ngga perduli jalan. Untung nya “sang driver” ngga mau digantiin… hehe.

Orang yang paling dipersalahkan  hingga bikin saya nekat pulkam nyetir sendiri adalah Ibu saya. Selain karena saya memang sudah kangen banget dengan beliau, tapi juga karena perubahan mendadak yang tadinya beliau akan berlebaran di Jakarta tiba-tiba membatalkan rencana  itu seminggu sebelum lebaran. Jadilah saya kalang kabut cari tiket. Tiket Garuda sudah habis. Dan saat itu, saya kurang berminat mencari maskapai lain. Hari berlalu dengan kesibukan luar biasa menjelang cuti bersama.  Gawat, kayaknya terpaksa harus naik mobil. Tapi mana mungkin, sama siapa? Hingga akhirnya seorang teman perempuan saya bernama Yayuk comment di FB saya, katanya sering ke Pati nyetir sendiri, bawa baby-nya pula. What???? Saya ngga percaya. Teman saya itu kecilll ( lah kok fisik? Hehe). Tapi karena pengalaman dia inilah yang akhirnya memantapkan saya untuk mengambil keputusan. Okeh, nyetir sendiri aja. Matic ini, nggak akan capek ! Dia aja bisa, masa saya ngga bisa. Saya langsung telpon Toyota, untuk booking jadwal service. Karena sendirian, kondisi mobil harus sempurna dong. Saya nggak mau tiba – tiba jadi gadis pantura ndorong mobil. :-D.

Makin dekat dengan hari – H, hidup saya penuh dengan drama. Waktu akan menghadiri meeting di daerah Kramat, mobil saya di “dicium ” pick up yang belok sembarangan. Bemper kiri vios saya penyok parah dan sulit belok. Hari-hari yang tersisa, tidak memungkinkan untuk memasukkannya ke bengkel resmi, karena pasti akan menginap lebih dari 2 minggu. Kejadian ini akhirnya memberikan pengalaman pertama saya menggunakan jasa deco di sepanjang jalan Salemba-Kramat.  Walaupun hasilnya tidak terlalu memuaskan, cat kurang rata,  tapi lumayan loh, 4 jam sudah mulus lagi hanya dengan Rp. 300,000.

Sehari menjelang keberangkatan, saya sudah membuat janji dengan teman saya, Ana yang akan pergi bareng  keluarganya. Mau konvoi ceritanya. Saya akan “ ngintil” di belakang mobil dia gitu. Karena starting point nya berbeda maka kita akan ketemuan di salah satu titik jam 6 pagi . Dia tanya ke saya , “nanti ketemuan di  mana? Suamiku rencana keluar tol klari, trus Karawang Jomin. Kuatir di buang ke tengah. “ .

Duh biyung, itu mana sih, pikir saya. Jomin itu mana, Tengah itu mana.. Aduh Doraemonnnn, helppp Nobita butuh pintu ajaibbb nih.

Dan hari yang dinantikan pun tiba. Namun sial, rencana konvoi dengan Ana gagal total karena saya bangun kesiangan ! Soalnya tidak tidur sama sekali di malam sebelumnya. Seharusnya untuk bisa bareng Ana,  mestinya sudah harus berangkat jam 4 pagi. Dan hari terakhir di kantor,  sangat mengaduk emosi dan melelahkan.

Tapi, karena memang sudah niat dan tekat sudah bulat, saya pun tetap tenang (baca : lempeng) dan tetap gembira serasa akan merasakan petualangan baru.  Jam 10 pagi, packing selesai. Oleh-oleh untuk Ibu sudah siap. Aneka minuman, roti, permen, coklat, obat anti masuk angin, sudah siap tersaji di keranjang cantik.  Dengan mengucap bismillah dan doa perjalanan, lalu saya pun mengelus mobil saya dan berbisik “ be nice ya sampai Pati”.  ( so sweeeettt..hehe).

CD musik ngebit dan CD nya Mba Anggun yang untuk jadi teman perjalanan sudah siap. Dan berangkatttt……   ke mall Kota Casablanka. Loh? Katanya ke Pati? Hehehe.. iyah, nge-mall dulu. Mau sarapan “siang” dan beli titipan ibu.

Setelah 2 jam nge-mall, berangkatttttt.. Kali ini beneran ke arah Pati. Set dulu Map nya Om google di android. Pilih rute “ Jakarta – Semarang”.  Kenapa Semarang, Om Google rada sombong siang itu, ngga nemu Pati…

Okeh, siap !!! Mobil melaju keluar parkiran. Eh, disitu saya baru tahu loh. Kalo Map nya bisa ngomong, “turn left, turn right” hahahaha….. aduh malu.

Petualangan pun dimulai saat masuk Pintu Tol MT Haryono.

Bersambung….

Jilbab bukan penghambat kesuksesan !

Posted on Updated on

Terdorong dari pengalaman diri dan orang lain yang pernah mengalami penolakan lamaran kerja di perusahaan karena jilbab nya, dan kejadian yang baru saja dialami oleh salah satu staf finance di kantor saya sebelumnya, sebut saja Eni, membuat saya menulis buah pikiran ini.
Ceritanya begini, karena kondisi kantornya yang tak lagi kondusif, saya mencarikan lowongan pekerjaan buat Eni. Lalu saya menghubungi teman saya, seorang HR Manager di salah satu perusahaan retail asing yang sedang berkembang di Jakarta. Pas banget, dia juga sedang membutuhkan seorang staf accounting dan paham mengenai perpajakan. Lalu saya rekomendasikan Eni untuk mengisi posisi itu. Saya menghubungi Eni dan meminta CV nya, yang lalu saya teruskan kepada teman saya itu. Saya juga memberikan testimoni bahwa anak ini memang cakap, cerdas, dan tidak mudah mengeluh. Tak lama kemudian, teman saya memberikan feedback dengan meminta maaf bahwa perusahaannya tidak bisa menerima orang yang memakai jilbab. Sambil tertawa kecil saya berkata “ Hari gini masih ada yang berpikiran sempit kayak gitu yah boo?”. Lalu teman saya bilang “ Maaf say, gue juga ga setuju, tapi company gue maunya begitu”. Sambil becanda saya bilang “ kalo masih rasis, pulang aja sono ke Negara lo”…. Hahahaa….kamipun tertawa bareng.
Tapi it’s okay, no big deal, kata saya.

Saya mikir, ternyata hal ini masih saja terjadi. Pendatang mendiskreditkan orang Indonesia dimana bumi ini dipijak oleh kakinya, tempat mereka makan minum, dan tempat mengeruk keuntungan dan mengembangkan bisnis sebesar-besarnya. Tidak usah jauh-jauh, kadangkala perusahaan yang notabene pemiliknya warga negara Indonesia pun kadang mendiskreditkan bangsa sendiri karena beda ras dan golongannya. Saya punya banyak teman baik dengan ras yang terkenal ulet dan pandai berdagang itu, dan kadang mentertawakan kenyataan yang terjadi di atas. Karena bagi kami,hal-hal kayak gitu itu sudah “kuno”.
Saya sendiri pemakai jilbab, dan jabatan masih belum tinggi, Product Manager di sebuah perusahaan farmasi multinasional yang bergerak di dermatology. Jika dipikir-pikir, pasti tidak mungkin perusahaan yang bergerak di bidang “perkulitan” mau menerima saya bekerja di posisi yang strategis seperti ini. Tapi..here I am. Sebelumnya, saya juga pernah bekerja dengan posisi yang sama di perusahaan farmasi dermatology  yang lain yang kalo meeting management di Kuala Lumpur, diantara semua yang putih dan bermata sipit, satu-satunya yang kulit coklat eksotis dan “krukut” alias rapet baju nya ya saya. Flashback lagi ke belakang, saya pernah bekerja di perusahaan kosmetik nasional yang katanya saat saya masuk adalah era perubahan pandangan owner yang sudah membolehkan jilbabers bekerja di Brand Management perusahaannya. Catat, ini perusahaan kosmetik yang general loh,bukan yang spesifik untuk muslim seperti Wardah.
Apakah saya tidak pernah merasakan penolakan dalam proses rekrutmen sebuah perusahaan? Oh.. tentu pernah dong. Saat test dan interview di sebuah perusahaan consumer goods. Harus menjawab soal test kayak ujian, berjam-jam. Lanjut dengan interview yang lama banget. Di akhir interview, sang interviewer bertanya “ Apakah mbak bersedia melepas jilbab jika bergabung nanti” . Saya kaget, dan dengan santainya saya jawab “ Maaf bu, masa usaha menuju surga saya tukar dengan hal begini, jadi artis aja ga mesti lepas jilbab”. Lalu saya pamit, dan dalam hati saya kesal “ Huh, wasting my time aja ! Bukannya di CV udah jelas-jelas ada foto saya, saya datang juga mereka melihat saya pake jilbab, kok masih coba-coba suruh lepas jilbab. Ini kan hak asasi manusia! Jiahhhh…. :D.
Lalu pernah juga seorang head hunter membatalkan interview saya dengan klien nya yang ternyata perusahaan farmasi lokal yang cukup besar. Dan mengatakan bahwa mereka belum bisa menerima orang pakai jilbab.
Apakah saya kecewa? Oh tentu tidak, saudara-saudara. Saya bersyukur masih bisa terjaga. Life is about choice. Hidup adalah pilihan, termasuk karir dan pekerjaan. Perusahaan punya hak memilih calon karyawannya. Kita juga punya hak yang sama, memilih perusahaan yang baik dan cocok menurut kita, yang menghormati hak asasi manusia, apalagi menyangkut sebuah urusan manusia dengan sang kholik yang tidak bisa diganggu gugat yaitu jilbab. Alhamdulillah, saat saya ingin pindah kerja, saya masih mudah mendapatkannya. Karena masih banyak perusahaan yang mencari orang berdasarkan skill, tanpa ngributin masalah “cashing”.
Saat ini, banyak sekali kan perempuan muslimah (yang memakai jilbab) menduduki top management? Karena kerja keras,kegigihan, amanah dan attitude yang baik membuat mereka berhasil. Jilbab bukan penghambat kesuksesan, karena kesuksesan itu kita sendiri yang tentukan. Dunia berkembang dan terus bergerak cepat. Kita harus bisa mengejarnya tanpa tergilas karena penurunan iman.
Saya sedih sekali jika ada seseorang melepas jilbab hanya karena tuntutan perusahaan, dan mengatakan bahwa “ tidak ada pilihan”. Apakah perusahaan tersebut adalah pilihan yang baik menurut Alloh? Saya yakin tidak. Buat saya, selain kemunduran amal, melepas jilbab berarti melepas harga diri sebagai muslimah. Lebih naas lagi jika perusahaan cuma menggaji anda 5 jutaan? Helloww jilbab anda dibeli 5 jt..? 100 juta perbulan aja ngga terbeli tuh cyinn…hehehe.
Nah, yang sudah berhasil mempertahankan jilbabnya..lanjutkan!! Dan teruslah berkarya. Keberhasilan kita akan lebih membantu saudara-saudara kita yang baru akan berkarir.Dan sapa tau bisa membantu merubah pandangan dunia terhadap jilbab. Bahwa jilbabers juga mumpuni dan dapat diandalkan di semua bidang pekerjaan yang digelutinya.

Mungkin sharing tips saja buat yang sudah bekerja, bukan hanya dari diri sendiri namun beberapa teman sesama jilbabers. Karena sayapun masih jauh dari sempurna dan masih perlu banyak belajar dari mereka.
Tips tampil professional jilbabers:
1. Jangan pakai baju dan jilbab yang terlalu heboh dan membatasi gerak. Tetap kenakan yang rapi, fashionable dan professional look. Kecuali anda owner boo…silahkan pakai seheboh yang anda mau.. 😀
2. Tampilkan attitude yang seiring dengan atribut muslimah yang kita kenakan, contohnya amanah (tepat janji, tepat waktu), disiplin, jujur, dll.
3. Selalu bekerja keras memberikan hasil yang terbaik untuk perusahaan.
4. Perluas pergaulan dan wawasan.
5. Jangan lupa sholat tepat waktu dan banyak doa, soalnya selain kewajiban yang tidak boleh terlewatkan, ini juga jadi senjata kita sebagai seorang muslim untuk kelancaran segala urusan. Tapi ingat, gunakan waktu sebijak mungkin, karena terlalu lama bisa-bisa dicap mencuri waktu untuk bersantai dengan alasan sholat.
So, tetap semangat dan berusaha … Success is in your hand !